Latest Entries »

Stop This Train

“Once in a while, when it’s good
 it’ll feel like it should
when you’re all still around
and you’re still safe and sound
and you don’t miss a thing
till you cry when you’re driving away in the dark
singing stop this train
I want to get off and go back home again
I can’t take the speed this thing is moving in
I know I can’t cause now I see I’ll never gonna stop this train.”

- Stop This Train, John Mayer -

 John Mayer. Sebenarnya saya bukan penggemar berat musisi, penyanyi sekaligus song-writer yang satu ini. Hanya sebatas tahu dan menyukai beberapa lagunya saja. Salah satunya adalah Stop This Train.

Pertama kali mendengar lagu ini, saya langsung suka pada petikan gitar JM yang menyerupai suara kereta api yang sedang bergerak konstan. (Eh bener ngga sih? Menurut saya sih kedengarannya seperti itu :P )  Lagu ini pun menjadi salah satu must-hear song dalam playlist saya. Berulang kali saya memutar lagu ini, namun baru kemarin saya benar-benar “mendengarkan” liriknya yang ternyata daleeeeem! Haaa. Sekarang tiap kali saya mendengar lagu ini, I get teary eyed. Serius. Buat saya, Stop This Train adalah lagu JM yang paling menguras emosi (halah!).

Stop This Train membuat saya berpikir..

.. bahwa kehidupan ini ibaratnya sebuah perjalanan mengendarai kereta api. Saya tidak tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan kereta ini untuk sampai ke tujuan. Saya tidak tahu jalur seperti apa yang akan saya tempuh. Saya juga tidak tahu apa dan siapa saja yang akan saya jumpai selama perjalanan. Yang saya tahu hanyalah apapun yang terjadi, saya tetap harus meneruskan perjalanan. Sebab kereta ini tidak akan pernah berhenti.

.. dan menjadi dewasa berarti saya harus siap menempuh perjalanan ini sendirian. Tidak ada lagi ayah dan ibu yang menemani, menuntun dan melindungi seperti ketika saya masih kanak-kanak dulu. Have to fighting life out on my own – seperti kata JM dalam lagunya. Menjadi dewasa berarti saya harus siap berjumpa dengan realitas yang lebih luas dan tanggung jawab yang lebih besar. Berbeda dengan dunia kanak-kanak di mana segala sesuatu tampak jauh lebih sederhana. Menjadi dewasa berarti saya juga harus siap berdamai dengan kenyataan bahwa dunia tidak selamanya penuh warna layaknya dunia kanak-kanak. Terkadang saya hanya menjumpai hitam dan putih.

Ada saat-saat di mana saya merasa lelah menjadi orang dewasa dan ingin berteriak “Stop this train. I want to get off and go home again.” Di saat-saat seperti itu rasanya saya ingin sekali memutar balik waktu dan kembali ke masa kanak-kanak. Namun tak seorang pun dapat memutar balik waktu. Saya tahu itu. Yang dapat saya lakukan adalah belajar berdamai dengan hidup. Belajar menerima apa yang telah digariskan untuk saya. Sebab selalu ada banyak hal yang patut disyukuri dalam hidup. Baik yang manis maupun pahit. Mudah maupun sulit. Seperti yang dikatakan old man dalam lagu JM “Turn sixty eight and you’ll re-negotiate. Don’t stop this train. Don’t for a minute change the place you’re in.” Saya tahu melakukannya memang jauh lebih sulit daripada sekadar mengucapkannya, tapi insyaAllah saya akan berusaha. I’ll never gonna stop this train.

 

Gambar diambil dari www.123rf.com

 I’m a WIFE now!

*blushing mode ON*

Alhamdulillah, 2 minggu yang lalu, tepatnya hari Kamis  18 November 2010 saya resmi menjadi istri dari pria yang menjadi kekasih saya selama 4 tahun ini, Mahtina Sasongko :)

Seorang istri. Wow. Jujur, sampai sekarang saya masih belum percaya status saya sudah berubah dari “Miss” menjadi “Mrs”. Hehehe. Rasanya tidak banyak yang berubah dari kehidupan saya sebelum dan sesudah menikah. Mungkin karena saya dan suami masih hidup berjauhan untuk sementara waktu, saya masih tinggal di kota industri yang super duper menyebalkan ini sedangkan suami  tinggal di Paiton, Jatim. Komunikasi pun masih kami lakukan melalui sms atau telepon seperti waktu pacaran dulu. Sedih rasanya :(

Satu kebiasaan yang berubah adalah : dulu sewaktu saya masih berstatus “Miss” tiap kali ke Gramedia nongkrongnya pasti di section komik dan novel, namun sekarang setelah menyandang gelar “Mrs. Sasongko” saya tidak lagi kalap berdesak-desakan dengan anak-anak SMP untuk berburu komik Ninja Rantaro melainkan berburu buku resep masakan. Ya. Layaknya emak-emak. Hehehe. Hey, mengapa tertawa seperti ituuu? Ya, ya, ya saya memang belum mahir memasak. Prestasi tertinggi saya dalam dunia masak-memasak sebelum ini hanya sebatas telur orak-arik. Nah, dalam rangka menyenangkan suami tercinta, saya akan mulai serius belajar memasak sekarang. Tidak pernah ada kata “terlambat” untuk belajar, bukan begitu? Hehehe. Semangaaat ^^

Pelajaran dimulai dengan membeli 3 buah buku resep : “Buku Pintar Menu 30 Hari” karangan Yuni Pradata & Raninta Ika Ariestya, “Kwetiau Dengan Berbagai Variasi” karangan Sisca Susanto dan “Kreasi Donat” karangan Lanny Soechan, memilih resep paling mudah untuk dicoba, berbelanja bahan-bahan yang dibutuhkan di Superindo, kemudian.. Heeey, kau tertawa lagiii! Ya, ya, ya saya memang “terpaksa” berbelanja di supermarket (bukan di pasar tradisional) karena bangun kesiangan. Hehehe. Peace ah v(^_^)v

Baiklah, sekarang simak ya cerita tentang pengalaman memasak saya berikut ini :)  

Resep ke-1 : Cah Brokoli Saus Keju

Bahan-bahan :
500 g brokoli, potong per kuntum
200 g 100 g keju, potong dadu *)
100 g cumi, potong kembang
150 mL air matang
2 sdm minyak goreng untuk menumis

Bumbu :
4 siung bawang putih, memarkan
2 siung bawang merah, memarkan
½ potong bawang bombay, iris melintang
2 cabai merah, iris serong
¼ sdt lada
½ sdt garam
1 sdt gula pasir
2 sdt minyak ikan **)
1 sdt maizena, encerkan dengan 2 sdm air matang

 Cara masak :

  1. Tumis bawang putih dan bawang merah hingga harum. Tambahkan cabai merah, bawang bombay, dan cumi. Aduk hingga rata.
  2. Tambahkan air dan bumbu-bumbu lain. Aduk hingga rata. Masukkan brokoli, aduk, masak hingga matang.
  3. Tambahkan larutan maizena, aduk sebentar hingga kuah mengental. Angkat dari api dan sajikan.

Catatan :
Penyimpangan dari buku resep
*) Jumlah keju saya kurangi menjadi 100 g. Keju mahal Buuu! Hehehe :P
**) Minyak ikan saya coret dari resep. Eneg, eneg, eneg T_T

 

Resep ke-2 : Terung Goreng Tepung

Bahan-bahan :
5 buah terung ungu, potong melintang
200 g tepung bumbu
100 g tepung beras
1 butir telur
100 mL air matang
Minyak goreng secukupnya 

Bumbu  untuk dihaluskan :
1 siung bawang putih
½ sdt ketumbar
1 sdt garam

Cara masak :

  1. Haluskan bumbu, campur dengan air matang. Masukkan ke dalam mangkuk yang berisi campuran tepung bumbu dan tepung beras. Aduk hingga rata.
  2. Tambahkan telur ke dalam adonan tepung, aduk hingga tidak ada tepung yang menggumpal.
  3. Celupkan terung, goreng hingga warnanya berubah kecoklatan. Angkat dan tiriskan.

Tadaaaaa! Cah Brokoli Saus Keju yang super lezat (dan tentu saja bergizi) dan Terung Goreng Tepung yang renyah siap disantap! Mudah bukan ibu-ibu? Selamat menikmati :)

Yah begitulah temans, cerita pengalaman pertama saya terjun ke dapur dan memasak sendiri tanpa supervisi Ibu. Ternyata memasak itu mudah dan menyenangkan yaaa?

*sombong betul si saya, lempar teruuung!*

 Hehehe. Terasa mudah mungkin karena resep yang saya coba kemarin masih tergolong “sederhana”. Seandainya saya disuruh mencoba resep yang sedikit lebih “complicated”, mungkin saya akan bingung, frustasi dan (sepertinya) berakhir dengan menculik Ibu ke dapur. Hihihi :P

Mengapa menyenangkan? Hmmm. Rasanya senaaang sekali mendapat pujian dari Ibu dan Bapak karena masakan saya enak. Ibu bilang Cah Brokoli Saus Keju buatan saya mirip masakan resto, sedangkan Bapak bilang Terung Goreng Tepung nya enak sekali sampai-sampai rasa khas terungnya hilang :P (Sayang, foto Terung Goreng Tepung tidak dapat saya tampilkan di sini berhubung penampilannya agak mengenaskan kurang sedap dipandang. Hihihi. Yang penting mah rasanya enak, iya kan?)

Alhamdulillah. Rasanya saya jadi bersemangat sekali untuk belajar memasak. InsyaAllah, saya bisa :)

(Sebuah Surat Cinta) Untuk Kamu

 

Terima kasih banyak..

..untuk kesediaan menjadi sahabat saya yang paling setia. Untuk setiap bahagia, tawa, keluh kesah dan tangis yang kita bagi bersama.

..untuk dorongan semangat yang membuat saya tegar menghadapi hari, bahkan hari-hari paling sulit sekalipun.

..untuk kesediaan menerima saya apa adanya, untuk mencintai segala kelebihan dan (segudang) kekurangan saya, dan untuk selalu membuat saya merasa nyaman menjadi diri sendiri.

..untuk tidak pernah lupa menelepon setiap pagi, “Hey, udah bangun belum? Jangan lupa shalat subuh yaaa..”

..untuk tetap sabar dan bertahan menghadapi hari-hari di mana saya menjelma menjadi perempuan paling menyebalkan sedunia.

..untuk setiap bahagia yang kamu bawa. Untuk setiap canda tawa yang mewarnai hidup saya.

..untuk setiap penghiburan yang kamu berikan saat saya mengalami hari yang buruk, untuk setiap butir air mata yang kamu usap dengan lembut, dan untuk membuat saya tersenyum lagi.

..untuk tetap berusaha menghabiskan brownies gosong atau mie instan terlalu lembek buatan saya dengan lahap.

..untuk dukungan pada setiap pilihan yang saya jalani dalam hidup.

..untuk selalu mendengarkan.

Dan yang paling penting dari semuanya : terima kasih untuk selalu ada.

Sungguh.

Memilikimu, menjadikan saya perempuan paling berbahagia di dunia.

Here today, here tomorrow
Through the joy, laughter and sorrow
You`re in my heart, we’re kindred souls
If you can read my mind, you’d know..

I`ll be there for you
The one who comes to your rescue
I`m the one you`ll never leave

No matter what you`re going through
I`ll be there for you

(I’ll Be There For You, Kenny Rogers)

Selamat Ulang Tahun

Aku tidak tahu kemalangan jenis apa yang menimpa kamu,
tapi aku ingin percaya ada insiden yang cukup dahsyat di dunia serba seluler ini
hingga kamu tidak bisa menghubungiku.”
(Dewi Lestari, Selamat Ulang Tahun)

Sahabatku tersayang.

Beberapa hari belakangan ini aku selalu memikirkanmu. Tidak. Mungkin lebih tepat jika kukatakan aku mencemaskanmu. Ya, benar-benar mencemaskanmu, kau tahu? Sebab baru pertama kali terjadi dalam sejarah persahabatan kita : kau tidak mengucapkan selamat di hari ulang tahunku.

Aku tidak tahu kemalangan jenis apa yang menimpamu hingga kau tidak bisa menghubungiku? Mudah-mudahan saja tidak ada. Aku tidak suka membayangkan sesuatu yang buruk terjadi padamu. Aku yakin ada alasan lain yang membuatmu terlambat mengucapkan selamat.

Mungkin ada virus jahat yang menginfeksi telepon seluler atau komputermu. Mungkin kau sedang berada di suatu tempat terpencil, jauh dari peradaban modern dan tidak terjangkau oleh jaringan telepon seluler maupun internet. Atau mungkin kau sedang sibuk membantu Ksatria Baja Hitam mengatasi serangan makhluk-makhluk jahat yang ingin menguasai dunia? Pedang matahariii! Ah sudahlah, semakin tidak masuk akal saja. Yang jelas, di manapun kau berada dan apapun yang sedang kau lakukan saat ini, aku sungguh-sungguh berharap kau baik-baik saja.

Mungkin kau hanya lupa hari ulang tahunku. Ah, tetapi rasanya tidak mungkin. Sama tidak mungkinnya dengan mengharapkan Voldemort tiba-tiba lupa kalau Harry Potter adalah musuh bebuyutannya lalu mereka berdua bersenda gurau layaknya sepasang sahabat. Tidak mungkin, apalagi dengan adanya birthday reminder di jaman facebook seperti sekarang ini. Hampir semua teman membanjiri wall-ku dengan ucapan selamat dan doa, bahkan teman yang sudah belasan tahun tak pernah kutemui pun tak lupa memberi selamat. Ya, semua. Kecuali kamu.

Ya, ya, aku tahu. Indahnya persahabatan tidak bisa diukur dari siapa yang lebih dulu mengirim sms atau mengetik ucapan “selamat ulang tahun” di wall facebook. Ada yang jauh lebih berharga dari sekadar ucapan selamat, yaitu doa yang tulus. Bukan begitu? Aku tahu (dan cukup yakin akan hal ini), kau sudah mendoakanku tanpa mengucap sepotong kata selamat. Tentu saja, kau kan sahabatku. Terima kasih ya untuk doa yang sudah kau panjatkan untukku. Aku sangat menghargainya. Sebuah doa adalah hadiah terbaik yang bisa diberikan oleh seorang sahabat. Aku setuju dengan pendapat itu.

Hanya saja aku telah begitu terbiasa dengan sepotong kata selamat yang tak pernah lupa kau ucapkan. Ini telah menjadi semacam tradisi yang selalu aku nantikan setiap tahun.

Hmmm. Apalah arti sebuah ucapan? Mungkin kau sedang bertanya-tanya. Sahabatku tersayang, kau ingin tahu arti sebuah ucapan untukku? Sebuah ucapan, sesederhana apapun bentuknya, kuanggap sebagai tanda. Ya, tanda. Aku menganggapnya sebagai wujud kepedulian dan rasa kasih sayang darimu.

Karena itulah aku masih disini. Menunggumu mengucapkan apa yang seharusnya kau ucapkan.. berhari-hari yang lalu : Selamat Ulang Tahun.

 

Fahd Djibran. Pertama kali saya mengenal Fahd adalah melalui karyanya yang berjudul “A Cat In My Eyes” kurang lebih 2 tahun yang lalu. Emh. Nice book, but quite complicated and i have to think hardly to find the meaning. Hehehe. Ya, tulisan-tulisan Fahd memang sarat akan makna. Seakan mengajak pembaca untuk merenung dan memikirkan kembali segala sesuatu dari sudut pandang berbeda. Jujur, bagi saya tidak cukup dengan sekali baca untuk dapat memahami seluruh makna yang tersirat dalam setiap tulisannya :P

Karya kedua Fahd Djibran yang saya baca adalah “Rahim”. Seperti halnya “A Cat in My Eyes”, “Rahim” menurut saya adalah sebuah novel yang tidak biasa. Berbeda dari kebanyakan novel karya penulis Indonesia lainnya, baik dari segi tema maupun gaya penyampaiannya. Two thumbs up lah untuk Fahd yang telah berani keluar dari pakem yang ada.

“Rahim” adalah sebuah kisah tentang hari-hari yang dijalani oleh seorang calon anak manusia selama sembilan bulan berada dalam rahim ibunya. Melalui kisah yang disampaikan oleh tokoh Dakka Madakka dari Kota Ura, seorang Pengabar Berita dari Alam Rahim, “Rahim” bercerita tentang fase-fase perkembangan biologis seorang bayi dari minggu ke minggu. Mulai dari sel telur yang dibuahi sperma, menjadi segumpal darah, menjadi janin, hingga menjadi bayi yang memiliki seluruh kelengkapan yang dibutuhkan untuk dapat hidup. Eits jangan buru-buru mengernyitkan dahi begitu, tenang, kau tidak akan menemukan istilah-istilah rumit kedokteran di sini. Dakka Madakka menjelaskan semuanya dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami :)

“Rahim” juga bercerita tentang peristiwa-peristiwa yang dialami sang bayi selama penantiannya di Alam Rahim sebelum dilahirkan ke Alam Dunia. Termasuk pertemuannya dengan tokoh-tokoh seperti Tuan Kucing yang Bisa Berbicara, Ikan Mas yang Bekerja Sebagai Koki, Amadeus, Aynu Si Gadis Buta Penunjuk Jalan, Profesor Waktu, Nenek Olav, dan tentu saja Mahavatara. Hmmm. Menarik sekali, jika cukup jeli maka kau akan menemukan bahwa setiap tokoh sebenarnya memiliki makna tersendiri :)

Tak hanya itu, melalui “Rahim” kau akan tahu bagaimana perasaan seorang ibu ketika mengandung bayi selama sembilan bulan dirahimnya. Kau juga akan tahu perasaan seorang ayah yang sedang menunggu kelahiran bayinya tercinta. Dan pada akhirnya, kau akan mengerti betapa besar kasih sayang orang tua kepada anaknya bahkan sejak sang anak masih berada dalam kandungan!

Ada satu bagian dalam novel ini yang khusus menceritakan tentang “Ibu”. Bagian yang telah dengan sukses membuat saya (yang pada dasarnya memang gampang sekali terharu) menangis.

“Kau tahu, bila kau diberi kesempatan untuk mengikuti seluruh gerak-gerik
Ibumu
ketika mengandungmu, melihat seluruh sketsa hidup yang ia jalani
bersamamu di perutnya, kuyakinkan kepadamu bahwa ia melakukan segala
hal yang terbaik yang ia bisa lakukan untuk menjagamu, merawatmu,
memberikan segala yang terbaik untukmu.”
Rahim, hal 186, 188.

Dakka mengingatkan saya untuk lebih menghormati dan menyayangi ibu saya. Ibu yang telah merelakan tubuhnya saya tumpangi selama kurang lebih sembilan bulan. Ibu yang telah mempertaruhkan nyawanya ketika mengantarkan saya ke Alam Dunia. Ibu yang tak pernah berhenti menjaga, merawat dan memberikan segala yang terbaik untuk saya, sejak saya masih berada dalam kandungan hingga kini tumbuh dewasa. Subhanallah. Betapa besar cinta ibu kepada saya!

”Lalu yang selalu membuatku heran, mengapa setelah kau dewasa dan
merasa bisa mengurusi kehidupanmu sendiri kau akan melupakan semuanya?
Melupakan segala kebaikan hati dan pengorbanannya?
Dan kau berani memarahinya, membuatnya menangis dan bersedih,
mengecewakan hatinya dan melukainya?”
Rahim, hal. 194.

Astaghfirullahaladzim. Saya seperti diingatkan betapa seringnya saya melukai hati ibu, membuatnya kecewa dan menangis. Ingin rasanya segera pulang ke rumah, bertemu dan menghambur ke pelukannya seraya berkata :

“Ibuku, tentang sikapku, tentang salahku, tentang sifatku,
dan segala hal dalam hidupku yang bersinggungan denganmu,
terima kasih dan maaf. Kaulah kecintaanku,
perempuan yang akan kusayangi sampai mati”
Rahim, hal. 201.

“Rahim” mengingatkan saya untuk lebih menghargai hidup. Mengingatkan bahwa saya adalah anak yang beruntung karena memiliki orang tua yang baik dan mengasihi saya. Terima kasih untuk Fahd Djibran atas inspirasinya :)  

 

Selama Kau Mau

  

Bertahun-tahun sudah,
aku memutuskan untuk berhenti mencintaimu.
Berhenti menunggu dan berhenti berharap.

Bertahun-tahun sudah,
aku berusaha keras untuk melupakanmu.
Melakukan segala cara untuk menghapus  kenangan tentangmu.

Bertahun-tahun sudah,
dan
kukira aku telah benar-benar melupakanmu.
Ternyata aku keliru.

Kamu masih saja ada di sana.
Berkelebatan dalam benakku.
Menyelinap ke dalam mimpi-mimpiku.
Tanpa permisi.

Kamu tahu?
Melupakanmu tidak semudah menekan tombol DELETE pada komputer.
Tidak sesederhana itu.

Atau mungkin kamu memang tidak untuk dilupakan?

Bertahun-tahun sudah,
dan kini aku memutuskan untuk menyerah
dan belajar berdamai :

Kamu boleh tetap tinggal di sana.

Tinggallah selama kamu mau.

Tulisan ini saya buat untuk seorang teman baik, seorang sahabat yang sedang belajar berdamai dengan masa lalu. Melupakan seseorang yang pernah menyentuh hatimu memang bukan hal yang mudah. Semakin keras usahamu untuk melupakannya, tanpa kau sadari hal itu justru akan membuatmu semakin teringat padanya. Hmmm. Bagaimana pun masa lalu adalah bagian dari perjalanan hidup. Tidak untuk dilupakan tetapi diambil hikmahnya, bukan begitu? Belajar memaafkan. Belajar berdamai. Someday you’ll be over him :) Dan by the way, tidak perlu operasi otak segala untuk membuang kenangan tentangnya. Hehehe. Aduuuh, buang jauh-jauh yaaa keinginan gila itu :P

 * Gambar diambil dari : http://vi.sualize.us

Saya sering berkhayal alangkah menyenangkan jika saya bisa menjadi anak kecil lagi. Bisa berlari ke sana kemari sambil berteriak dan tertawa riang, berguling-guling di lantai yang berdebu tanpa khawatir mengotori baju, atau menyanyikan lagu “Happy Birthday” sekeras-kerasnya di swalayan tanpa malu diperhatikan banyak orang.

Seandainya waktu bisa diputar kembali, untuk sehari saja, saya ingin kembali ke masa kanak-kanak. Ingin mengulang masa-masa bahagia dimana saya bisa menikmati hidup seutuhnya. Masa-masa dimana saya bisa tertawa lepas tanpa beban. Tanpa perlu banyak berpikir. Tanpa perlu menjaga sikap. Bebas melakukan apapun yang saya suka tanpa takut dicela orang.

Saya ingin kembali ke masa-masa dimana saya hidup hanya untuk saat ini, menikmati setiap detik didalamnya tanpa perlu dibayangi oleh masa lalu dan keharusan memikirkan masa depan. Masa-masa dimana hidup terlihat begitu sederhana.

Ah, betapa saya rindu menjadi anak-anak lagi.

Tentang Mencintai

 

Ketika kau mencintai seseorang, kau menerima dia apa adanya. Mencintai dia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dia tidak harus bersusah payah untuk selalu tampil sempurna dihadapanmu. Dia juga tidak harus berpura-pura jadi si Tuan Pintar yang tahu segalanya untuk membuatmu menyukainya. Cinta adalah ketika kau bisa membuatnya merasa nyaman untuk menjadi diri sendiri saat berada di dekatmu.

Ketika kau mencintai seseorang, kau adalah sahabat yang setia menemaninya dalam suka maupun duka. Sahabat untuk berbagi bahagia. Yang tersenyum lebih lebar saat dia tersenyum. Yang tertawa lebih keras saat dia tertawa. Sahabat untuk berbagi tangis. Yang mau meminjamkan bahumu saat dia ingin menangis. Yang rela melakukan apapun untuk menghapus air mata dan mengembalikan senyum di wajahnya. Kau adalah sahabat yang membuat dia bersemangat menghadapi setiap hari dalam hidupnya.

Ketika kau mencintai seseorang, kau menjadi seseorang yang mendengarkan dengan penuh perhatian cerita tentang keseharian, tentang impian, tentang cita-cita, tentang keluh kesah, atau tentang ketakutan terbesarnya. Kau mungkin tidak selalu punya jawaban untuk setiap masalahnya, tapi hanya dengan sungguh-sungguh mendengarkan lalu tersenyum penuh pengertian sembari memeluk menenangkannya, kau seolah mengangkat beban berat yang ada di pundaknya.

Ketika kau mencintai seseorang, hal yang paling membuatmu bahagia adalah melihat dia bahagia. Senyumnya bagimu adalah harta karun paling berharga. Dan kau rela melakukan apapun untuk dapat melihatnya.

Ketika kau mencintai seseorang, mengobrol dengannya tidak akan pernah membuatmu merasa bosan. Dia tidak membuatmu merasa canggung walaupun topik yang kalian bicarakan hanya hal-hal sepele seperti cuaca yang cerah, warna pakaian yang akan dipakai, jalanan yang macet, kejadian konyol di angkot, menu makan siang, teman yang menyebalkan, dosen atau atasan yang cerewet. Bahkan ketika kau dan dia melewatkan waktu hanya dengan saling berdiam diri. Kau tetap merasa nyaman.

Ketika kau mencintai seseorang, hal yang paling ingin kau lakukan adalah selalu berada didekatnya, menjadi bagian dari kesehariannya dan melimpahinya dengan berton-ton kasih sayang. Saat kau harus hidup berjauhan dengannya dan tak kuasa menahan rindu untuk bertemu, kau menangis. Makanan favoritmu terasa hambar. Matahari tidak bersinar seterang biasanya. Bahkan Brad Pitt dan Sean Penn pun mendadak kehilangan pesonanya. Rindu membuatmu susah. Tapi apa karena itu kau menganggap cinta menyedihkan? Justru itulah indahnya cinta. Kau memang tidak dapat melihat, menyentuh dan merasakan kasih sayangnya secara langsung. Tapi mengetahui dalam hati bahwa dia sayang padamu dan kamu juga sayang padanya, bukankah itu sudah cukup?

Ketika kau mencintai seseorang, orang yang kau ingat saat membuka mata untuk pertama kalinya di pagi hari adalah dia. Ketika terjebak kemacetan di perjalanan menuju kampus atau kantor, kau memikirkan apakah dia sudah mandi dan berangkat? Ketika sedang tenggelam dalam aktivitas kantor, kau masih sempat bertanya-tanya sedang apa dia sekarang? Ketika waktu makan siang tiba, pikiran yang terlintas dibenakmu adalah apakah dia juga sudah makan? Ketika matahari terbenam dan senja tiba, hal yang kau cemaskan adalah apakah dia sudah sampai ke rumah? Ketika mata mulai berat dan kau naik ke tempat tidur, kau ingin tahu apakah hari ini menyenangkan baginya? Dan sesaat sebelum kau terlelap, dalam doa yg kau panjatkan kau bersyukur Tuhan telah mengirimkan dia untuk mengisi hari-harimu.

Cinta itu indah. Saya percaya.

Bahkan ketika kau mencintai seseorang dan cintamu itu bertepuk sebelah tangan. Karena ketika kau mencintai seseorang, kau melakukannya dengan tulus tanpa mengharap balasan apalagi memaksanya untuk mencintaimu. Jika dia memang tidak dapat mencintaimu maka lepaskan. Bukan karena dia tidak mencintaimu melainkan karena kau sadar dia akan lebih berbahagia dengan orang lain dan bukan denganmu. Mengutip kata-kata dalam Filosofi Kopi, kebahagiaan sejati dari mencintai adalah merasakan cinta tanpa takut kehilangan cinta. Tidak ada yang perlu kau sesali. Suatu saat nanti kau pun akan menemukan seseorang yang kau cintai dan mencintaimu sepenuh hati.

 

(Sebuah catatan yang ditulis bertahun-tahun yang lalu. Saya temukan kemarin saat sedang beres-beres file di komputer)

 

happiness

Apakah makna kebahagiaan bagimu?

Hmmm. Jika seseorang ditanya tentang makna kebahagiaan, maka jawabannya bisa bermacam-macam karena setiap orang pasti memiliki definisi sendiri-sendiri tentang kebahagiaan. Kebahagiaan memiliki makna yang khas untuk setiap orang.

Mencicipi seloyang blackforest dan secangkir teh manis di sore hari mungkin saja merupakan kebahagiaan bagi sebagian orang, tapi tidak bagi mereka yang menderita penyakit diabetes. Pesta buku murah dengan diskon up to 70% di Gramedia mungkin saja kebahagiaan tak terperikan bagi para penggila buku seperti saya, tapi tidak bagi mereka yang tidak suka membaca buku dan jauh lebih berbahagia saat menenteng tas belanjaan berlabel Mango.

Kebahagiaan tergantung bagaimana cara seseorang memaknainya.

Sebagian orang berpendapat bahwa bahagia sama dengan bekerja sebagai eksekutif di sebuah perusahaan multinasional dengan penghasilan selangit ditambah bonus mobil, rumah mewah dan liburan ke luar negeri. Tapi ada sebagian orang yang menemukan bahagia saat mereka mengejar impian untuk memiliki usaha sendiri, menjadi seorang seniman, atau mungkin chef. Meskipun itu berarti mereka harus meninggalkan pekerjaan dan kehidupan yang mapan untuk memulai segala sesuatunya dari nol lagi.

Ada sebagian orang yang merasakan bahagia saat hidupnya lebih bermakna bagi orang lain. Mereka yang menjadi relawan di daerah konflik. Mereka yang rela tinggal di dusun terpencil tanpa listrik untuk mengajari penduduk setempat baca tulis. Mereka yang merawat dan menemani orang-orang lanjut usia di panti jompo. Mereka yang suka menyisihkan sebagian hartanya untuk bersedekah.

Hmmm. Ternyata kebahagiaan tak selamanya semakna dengan uang, mobil mewah atau rumah bertingkat. Kita mungkin tak memiliki semua itu, tetapi bukan berarti kita tidak berbahagia kan?

Setiap orang berbahagia dengan caranya masing-masing.

Bagi saya, kebahagiaan adalah ketika saya bisa bersyukur atas apa yang telah Tuhan berikan.

* sumber gambar : www.vi.sualize.us

Pelajaran Cinta Pertama

“Aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta. Namun orang itu hanya mampu kugapai sebatas punggungnya saja. Seseorang yang cuma sanggup kuhayati bayangannya dan tak akan pernah kumiliki keutuhannya. Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh yang lenyap keluar dari bingkai mata sebelum tangan ini sanggup mengejar. Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara, langit, awan atau hujan. Seseorang yang selamanya harus dibiarkan berupa sebentuk punggung karena kalau sampai ia berbalik niscaya hatiku hangus oleh cinta dan siksa”

Hanya Isyarat, oleh Dewi Lestari

Pernahkah kau mencintai seseorang, namun orang itu hanya mampu kau gapai sebatas punggungnya saja? Seseorang yang hanya sanggup kau hayati bayangannya. Kau tahu hampir segala hal tentangnya, namun tak pernah berani mengutarakan isi hati dan mengungkapkan perasaanmu padanya.

Saya pernah mengalaminya. Saya pernah begitu menyukai seseorang. Saya mencari tahu sebanyak-banyaknya tentang dia. Makanan kegemarannya. Game favoritnya. Buku yang ia sukai. Musisi jazz yang ia gandrungi. Film yang ia tonton. Saya hafal tanggal ulang tahun, nomor induk mahasiswa, nomor teleponnya dan nomor pelat sepeda motornya. Saya mulai mengoleksi album dari musisi yang ia sukai. Saya bahkan berhasil membuat diri saya benar-benar menyukai beberapa lagu dari musisi tersebut. Hehehe. Terkadang saya tertawa sendiri jika mengingat masa-masa itu.

Saya suka mengamatinya dari jauh. Kacamatanya, hidungnya, bibirnya, telinganya, rambutnya, kaosnya, jaketnya, ransel hitamnya, sepatunya, caranya menatap, caranya tersenyum dan tertawa, caranya berbicara, dan caranya berjalan. Cukup dari jauh saja. For some silly reasons, saya tidak ingin berada terlalu dekat dengannya. Saya tidak ingin ia menyadari tangan saya yang berkeringat, mendengar jantung saya yang berdegup kencang, atau bertanya-tanya mengapa saya tidak bisa menatapnya lebih dari 5 detik tanpa membuat wajah saya memerah ketika mengobrol dengannya. Ia yang paling ingin saya temui, tapi tidak dalam jarak sedekat itu. Saya selalu menghindar. Saya bahkan menolak saat ia ingin berkunjung ke rumah, padahal saat itu setengah mati saya ingin berteriak “YA”.

Saya tidak pernah punya keberanian untuk mengutarakan perasaan ini padanya. Hanya dengan saling melirik dan bertukar sapa jika kebetulan kami berpapasan (dan jika saya tidak sempat menghindar) di kampus atau saling mengucapkan “Selamat Ulang Tahun” setahun sekali saja, itu sudah lebih dari cukup bagi saya. Berharap ia dapat merasakan isyarat yang mampu ia tangkap tanpa perlu saya ucapkan.

Tahun demi tahun berlalu. Ia tak pernah menyadarinya. Rasanya memang lebih baik begitu.

Kini, saya dan dia memiliki kehidupan masing-masing. Saya berbahagia karena memiliki seorang kekasih yang luar biasa pengertian dan baik hati. Ia yang mau menerima saya apa adanya dan mau mengisi kekurangan saya. Ia yang membuat saya merasa nyaman bila didekatnya. Saya sangat mencintainya. Sungguh, saya adalah gadis yang amat beruntung dan saya bersyukur karenanya.

Sedangkan dia.. Kini dia sudah bekerja dan pindah ke kota lain. Kabar terakhir yang saya dengar tentangnya adalah : he’s getting married! Yup. He’s going to be somebody else’s husband. Wow. She must be a very special girl. Saya turut berbahagia untuk mereka berdua. Sungguh.

(Tapi jujur, saya agak penasaran. Is she better than me? Hahaha)

Ia adalah pelajaran cinta pertama buat saya. Tidak ada yang saya sesali dari perasaan indah yang pernah saya miliki untuknya. Sekalipun perasaan itu kini telah mengkristal, dan saya akan menyimpannya. Selamanya.

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.